Skip to content

BUDAYA LOKAL DALAM MEMPERKUAT BUDAYA BANGSA

Mei 11, 2011

  

MAKALAH

BUDAYA LOKAL DALAM MEMPERKUAT BUDAYA BANGSA

 

 

TUGAS

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Semester 4

 

 

Nama        :        Agung Herdana

Kelas         :        2EA17

NPM          :        15209788

 

 

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNA DARMA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

            Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.000 pulau. Struktur negara yang terpisah-pisah atas pulau-pulau tersebut, membuat Indonesia memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam setiap pulaunya misalnya dari segi bahasa, makanan, adat istiadat, pakaian daerah, tarian dan lagu, dan sebagainya. Semua unsur tersebut membentuk suatu kebudayaan yang beragam dari Sabang sampai Merauke, istilah daerah yang disebut-sebut sebagai jangakauan Indonesia. Kebudayaan-kebudayaan tersebutlah yang membentuk indentitas suatu bangsa, karena itu Indonesia dikenal dengan negara mutikultur.

Dalam pengertian yang paling umum, kebudayaan merupakan seluruh cara hidup sesuatu masyarakat atau seluruh aspek pemikiran dan tingkah laku manusia yang diwarisi dari satu generasi ke generasi yang lain melalui proses pembelajaran. Tetapi dalam pertuturan sehari-hari, kebanyakan dari kita membuat pengertian kebudayaan atau mengaitkan dengan fenomena-fenomena seperti bentuk tarian dan musik, makanan, pakaian atau secara umum kesenian. Ini adalah pengertian sempit. Hampir bisa dipastikan sebagian besar orang mengartikan “kebudayaan” sebagai “kesenian”, meskipun sebenarnya kita semua memahami bahwa kesenian hanyalah bagian dari kebudayaan.  Hal ini tentulah karena kesenian memiliki bobot besar dalam kebudayaan, kesenian sarat dengan kandungan nilai-nilai budaya, bahkan menjadi wujud dan ekspresi yang menonjol dari nilai-nilai budaya.

Dari perspektif sosiologi kebudayaan membawa pengertian segala hasil dan idea yang dipelajari oleh ahli-ahli dalam sebuah masyarakat. Ini termasuk kepercayaan, nilai-nilai politik, adat istiadat, undang-undang, moral, institusi sosial, seni lukis, bahasa dan bahan-bahan material. Edward B.Taylor telah memberi satu pengertian yang klasik mengenai konsep kebudayaan.

“..kebudayaan merupakan satu keseluruhan yang kompleks yang mengandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, kesusilaan, undang-undang, adat dan lain-lain, serta kebiasaan yang diperolehi oleh manusia sebagai anggota masyarakat.”

Studi kasus bangsa Indonesia misalnya, selama ini ia sedang berusaha memelihara eksistensi dan kesatuan bangsa untuk tidak kehilangan jatidiri dan harga diri. Eksistensi dan kesatuan bangsa ini akan terjaga dengan baik jika  pengembangan budaya memperkokoh kesadaran diri dan jatidiri kita sebagai bangsa yang kompak. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketahanan budaya bangsa, maka pembangunan nasional perlu bertitik-tolak dari usaha pengembangan kebudayaan lokal yang mampu melahirkan “nilai-tambah kultural”.  Nilai tambah kultural pada dasarnya juga memuat makna nilai-tambah kemartabatan, nilai-tambah kebanggaan, nilai-tambah jatidiri dan nilai-tambah akal-budi serta budi pekerti. Hal ini erat kaitannya dengan apa yang dicita-citakan oleh kemerdekaan bangsa ini, yaitu cita-cita untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PERMASALAHAN

            Dari pengertian-pengertian di atas, menunjukkan bahwa nilai kebudayaan begitu penting bagi kehidupan suatu kaum dalam hal ini bangsa Indonesia. Kebudayaan secara utuh sebenarnya meliputi pola pikir suatu masyarakat, yang banyak diekspresikan melalui aneka ragam kesenian. Di sisi lain kita harus menyadari bahwa kebudayaan lokal / daerah (tradisional) pada dasarnya adalah suatu kesatuan yang tak bisa dibatasi oleh klaim suatu wilayah. Untuk itulah, jika kebudayaan ditempatkan sebagai sarana menciptakan ketahanan budaya suatu bangsa maka persoalan makna ketahanan budaya tersebut harus disikapi sebagai ketahanan nasional.

Lalu bagaimana peranan kesenian tradisonal dalam konsep ketahanan budaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu beberapa anternatif langkah. Yaitu perlu mengidentifikasi kebudayaan-kebudayaan lokal tertentu yang dominan, yang memiliki peluang untuk dikembangkan dan diperkaya, serta dapat menarik munculnya daya apresiasi masyarakat. Serta melakukan scanning lingkungan untuk dapat mengetahui apa yang dapat menguatkan bangsa melalui budaya-budayanya sampai yang menjadi ancaman secara negatif atau ancaman secara positif yang dapat menjadi tantangan kita sebagai bangsa Indonesia untuk terus berkembang dan mempertahankan indentitas diri melalui kebudayaan-kebudayaan lokal sebagai harta dan harga diri.

Ketahanan bangsa Indonesia dalam mempatenkan budaya-budaya lokal yang kurang menjadikan peluang bagi negara-negara lain yang melihat uniknya budaya-budaya Indonesia tersebut mengakuinya dan ingin memilikinya. Contoh kasus yang paling mencuat adalah klaim-klaim Malaysia terhadap budaya-budaya Indonesia, yang memang pada dasarnya secara geografis letak Malaysia berdekatan dengan Indonesia bahkan menyatu dengan pulau Kalimantan. Daftar Budaya kita yang diklaim Malaysia ( sumber : http://HYPERLINK “http://budaya-indonesia.org/iaci/Data_Klaim_Negara_Lain_Atas_Budaya_Indonesia”budaya-indonesia.org):

  • Naskah Kuno dari Riau
  • Naskah Kuno dari Sumatera Barat
  • Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan
  • Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara
  • Rendang dari Sumatera Barat
  • Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku
  • Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur
  • Lagu Soleram dari Riau
  • Lagu Injit-injit Semut dari Jambi
  • Alat Musik Gamelan dari Jawa
  • Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur
  • Tari Piring dari Sumatera Barat
  • Lagu Kakak Tua dari Maluku o
  • Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara
  • Motif Batik Parang dari Yogyakarta
  • Badik Tumbuk Lada
  • Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat
  • Kain Ulos
  • Alat Musik Angklung
  • Lagu Jali-Jali
  • Tari Pendet dari Bali

Namun, tidak sepenuhnya pemerintah disalahkan dalam kasus peng-klaiman ini, banyaknya budaya yang terdapat di Indonesia memang sulit dimungkinkan untuk di hak patenkan satu persatu. Peng-klaiman tersebut juga dipengaruhi oleh adanya era globalisasi yang membebaskan negara-negara untuk beraktivitas dimana pun sehingga dapat mengaplikasikan budaya-budaya yang didapat dari berbagai negara yang telah dikunjungin misalnya. Memang harus diakui bahwa ancamanan globalisasi tak bisa dihindari. Ketahanan budaya ini tentu harus selalu kita artikan secara luas, di mana unsur-unsur kebudayaan dari luar ikut memperkokoh unsur-unsur kebudayaan lokal.  Dalam pengertian ini, jelas bahwa bila kita bicara mengenai ketahanan budaya, pada dasarnya kita berbicara pula mengenai pelestariannya dan pengembangannya dengan usaha-usaha yang lebih khusus. Tentu globalisasi, selain harus kita waspadai, juga harus kita lihat sebagai kesempatan-kesempatan baru bagi budaya Indonesia untuk mengibarkan sayapnya ke luar negeri. Kita harus proaktif di dalamnya. Di situ kita harus go public dengan local culture Indonesia, sehingga Indonesia lebih dikenal dalam globalisasi dari aspek budaya.

1. KELEBIHAN (STRENGTH)

  • Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan kebudayaan yang memiliki nilai unik yang menjadi kekayaan suatu bangsa
  • Kebudayaan terdiri dari berbagai unsur, karena banyaknya pulau dan daerah di Indonesia, maka Indonesia pun memiliki banyak unsur-unsur kebudayaan itu sendiri seperti alat musik, senjata daerah, lagu, tarian, pakaian adat, upacara, serta kesenian lainnya.
  • Berkembangnya budaya Indonesia menjadi kekuatan sendiri dalam industri pariwisata Indonesia sehingga dapat menambah devisa negara melalui sektor pariwisata tersebut.

 

2. KELEMAHAN (WEAKNESS)

  • Banyaknya kebudayaan-kebudayaan yang ada, tidak memungkinkan untuk melakukan hak paten satu-persatu, ataupun jika bisa dilakukan memerlukan waktu yang cukup lama
  • Sulitnya melakukan koordinasi dalam pelestarian budaya dan menggali lebih dalam kebudayaan yang dimiliki karena Indonesia yang berbentuk kepulauan secara geografis.
  • Banyaknya kebudayaan di Indonesia sehingga beberapa diantaranya ada yang terlupakan atau tersingkirkan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.
  • Kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai budaya-budaya di Indonesia  membuat budaya-budaya itu sendiri menjadi punah

 

3. PELUANG (OPPORTUNITY)

  • Kebudayaan-kebudayaan yang tidak ada di negara lainnya tersebut dapat menarik perhatian negara lain untuk datang ke Indonesia sehingga tingkat pariwisata ke Indonesia dapat terus berkembang.
  • Citra Indonesia menjadi baik jika kebudayaan yang ada sudah dikenal oleh berbagai negara, sehingga Indonesia menjadi negara multikultur yang saat ini menjadi negara berkembang dapat menjadi negara maju di bidang budayanya.

 

4. ANCAMAN (TREAT)

  • Adanya negara-negara yang memiliki kebudayaan yang mirip dengan Indonesia dikarenakan secara geografis letaknya berdekatan seperti Malaysia sehingga dapat diakui oleh negara lain.
  • Era globalisasi seperti saat ini memberikan peluang kepada budaya barat untuk masuk dan berkembang di Indonesia sehingga terjadi westernisasi  walaupun saat ini sebenarnya sudah banyak budaya kebarat-baratan yang diikuti oleh masyarakat modern Indonesia.

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

 

Adapun kesimpulan dan saran menurut penulis mengenai hal ini adalah:

  • Sebaiknya menjadikan kebudayaan-kebudayaan lokal yang dianut menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya semacam way of life.
  • Pemerintah Indonesia sebaiknya melakukan sosialisasi kepada warga Indonesia mengenai pengetahuan kebudayaan itu sendiri melalui media massa, lembaga pendidikan seperti sekolah, dan institusi-institusi laiinya yang dapat terusmembangkitkan, melestarikan, serta mengembangkan budaya itu sendiri seperti sanggar-sanggar.
  • Dalam pengembangannya, sebaiknya pemerintah Indonesia melakukan program-program yang memajukan budaya-budaya lokal seperti ‘Visit Indonesia’ yang didukung dengan upaya komunikasi dan promosi dengan baik, komprehensif (menyeluruh), kontinyu, dan menarik di media-media lokal maupun internasional.
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: